Guyon Bareng Mbah Mun, demikian kami menyebut pertemuan kami
yang perdana secara fisik dengan tokoh kyai kharismatik Mbah Maimun Zubair. Jumat
Wage 11 Muharom 1440 Hijriah, bertepatan dengan 21 September 2018.
Sejak dinihari kami sudah sampai di Masjid Besar di Kawasan
Sarang Rembang. Rombongan bertemu dengan santri lain yang juga sama-sama hendak
sowan Mbah Maimun Zubair.
Dini hari kami manfaatkan waktu untuk sholat sunah tahajud
dan sholat hajat, sambal berdoa menyampaikan hajat dan menggantungkan harapan
kepada Allah SWT. Usai sholat kami thenguk-thenguk
di halaman masjid, menikmati jajan
yang kami beli di jalan tadi.
selang beberapa saat ,Sebelum subuh, kami sarapan di warung
makan seberang masjid. mobil kami parker di halaman masjid. usai makan kami
sholat subuh berjamaah dilanjutkan yasin dan tahlil lengkap.
Hamper jam 06.00 pagi saat selesai jamaah subuh, kami pun
bersiap ke PP Al Anwar Karangmangu Sarang Rembang. Setelah mobil kami parkir, kami menunggu
untuk masuk ke “nDalem” beberapa saat menunggu kami melihat Mbah Maimun usai
memimpin sholat subuh berjamaah dan pengajian subuh.
Kami bersabar . Abdi dalem meminta kami masuk, maka Pak
Sujud sebagai Alumni PP Al Anwar, santri Mbah Maimun, memimpin rombongan dari Kendal. Kyai Sujud, Syeh Turmundhi dan Gus Muslimin
masuk dan bersalaman dengan Mbah Maimun.
Sementara saya dan Kyai Adib masih menunggu di luar. Panitia
menyiapkan kursi portable, kami duduk di kursi. menerima Teh Botol dan Kurma. selang beberapa saat kami ke
kamar kecil untuk pipis dan ambil
wudhu.
begitu selesai kami melihat ke dalam, Alhamdulillah bertiga
sudah dapet tempat, kami menyesuikan untuk masuk. Kyai Adib di depan, sementara
saya dibelakangnhya.
Alhamdulillah, beberapa harapan dan mimpi saya ketika
bertemu dan kontak fisik langsung dengan Mbah Maimun Zubair terkabulkan.
mengingat tamu begitu banyak, maka kami pun memperluas kesabaran.
Alhamdulillah , berkah kesabaran kami tidak kebagian tempat duduk. namun kami
bisa sangat dekat denan Mbah Maimun Zubair karena kami duduk di samping kursi
beliau. meskipun di lantai namun kami bisa sangat dekat dengan beliau. Alhamdulillah.
berada disamping Mbah Maimun adalah Syeh Turmundhi dan Kyai
Sujud, dibelakangnya adalah Gus Muslimin dan Kyai Adib, sementara saya dipojok
tersendiri dekat dengan tumpukan kitab dan tempat Mbah Maimun Zubair menyimpan
tongkat.
kami bisa mendengan dan menyimak dengan baik apa yang beliau
sampaikan kepada jamaah. saya merekam dengan handphone. meskipun hasilnya
kurang maksimal.
Semangat Nasionalisme
dan Agama.
Semangat dan jiwa nasionalisme yang tertanam pada sosok KH.
Maimun Zubair sudah tidak diragukan lagi. Tidak hanya kiprahnya, di dalam
berbagai kesempatan, sebagai Kiai
Kharismatik Mbah Maimun selalu mengingatkan tentang pentingnya menanamkan
semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Bahkan tak jarang ia mencontohkannya
dengan bentuk sikap nyata yang ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari.
Hari ini kami menyimak langsung pada jarak dekat
nasihat-nasihat beliau tentang Nandhatul Ulama, Tentang Perjuangan bangsa,
tentang NKRI, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Usia beliau yang hampir mendekati 93 tahun sama sekali tidak
melunturkan kecintaannya kepada Indonesia.
Begitulah nasionalisme beliau. Ulama panutan ini telah
mengajarkan kepada kita tentang cara mencintai dan memelihara kedamaian tanah
air Indonesia. Ini berbanding terbalik dengan sebagian orang dari kelompok
tertentu yang baru saja dinyatakan
sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Tokoh-tokoh mereka tiba-tiba
mengharamkan hormat kepada sang merah-putih dan berdiri saat lagu kebangsaan
dinyanyikan; menyebut nasionalisme tidak ada dalilnya; ingin mengganti ideologi pancasila dengan aneka
pembenaran dalil yang mereka bawa; lalu menyebut diri mereka sangat cinta agama
namun tak pernah mau menghargai sang saka, pancasila, & Bhinneka Tunggal
Ika;
dan yang terpenting adalah falsafah Pancasila yang mengejawantahkan nilai-nilai agama Islam,
bagaimana lambang Burung Garuda Pancasila dijabarkan dalam penanaman
nilai-nilai luhur agama islam, termasuk syarat sah sholat dan ibadah kepada
Allah SWT.
Mbah Maimun adalah?
Simbah Kyai Haji Maimun Zubair lahir pada hari Kamis, 28 Oktober
1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Ibundanya adalah putri dari
Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatis yang dikenal teguh memegang
pendirian.
Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh
ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq,
Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Ayahanda beliau, Kyai Zubair,
adalah murid Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.
Sekitar tahun 45, beliau memulai pendidikannya di Pondok
Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang biasa dikenal sebagai
Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH.
Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.
KH. Maimun Zubair, Mengungkap rahasia kebesaran Allah
dibalik tanggal, bulan dan Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, 17-8-45. Menurut Mbah Maimun angka tersebut
menunjukkan keiatimewaan Indonesia hingga Allah memperingatkan kemerdekaan
Indonesia dengan angka 17, 8, dan 45.
Mustasyar PBNU itu menegaskan, bangsa Indonesia adalah
benar-benar bangsa yang terpilih. Tidak
ada di permukaan bumi orang Islam terbanyak seperti Indonesia. 90 % rakyat
Indonesia beragama Islam.
Menurut Mbah Maimun, rangkaian angka 17, 8, dan 45 adalah
angka sholat yang menjadi salah satu kewajiban Umat Islam. “Ini angka
sembahyang, sembahyang angka yang harus diketahui yaitu tujuh belas, delapan,
dan empat lima. Kalau tidak tahu ini tidak sah shalatnya,” terangnya. bahkan tidak
akan masuk sorga.
Ia juga mengatakan, bahwa dalam lambang garuda pancasila
terdapat dua sayap dengan jumlah bulu 17 di kanan, dan 17 disebelah kiri. Ia
menjelaskan lambang angka 17 ini merupakan jumlah rukunnya shalat. Rukun tersebut
adalah (1) niat (2) takbiratul ihram (3) berdiri (4) membaca al-fatihah (5)
rukuk (6) thumakninah dalam rukuk (7) iktidal (berdiri bangun dari rukuk) (8)
thumakninah dalam iktidal (9) sujud dua kali (10) thumakninah dalam sujud (11)
duduk diantara dua sujud (12) thunakninah dalam duduk diantara dua sujud (13)
membaca tasyahud akhir (14) duduk (ketika membaca) tasyahud akhir (15) membaca
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam duduk tasyahud akhir (16) (membaca)
salam (17) tertib (mengerjakan secara berurutan).
Tujuh belas yang kedua, lanjut Mbah Moen, merupakan jumlah
rakaat shalat sehari-semalam. Yakni Mahgrib tiga rakaat, Isya empat rakaat,
Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, dan Ashar empat rakaat.
Sedangkan angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka
dan sebabnya masuk surga. Mbah Maimun menjelaskan tentang tujuh penolak neraka
yang ada dalam anggota sujud meliputi:
jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.
“Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada
tujuh,” ujarnya.
“Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat
sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah
pintu surga,” jelas Mbah Maimun,
Kyai Adib, Kyai Sujud, Syeh Turmundhi , Gus muslimin dan
semua jamaah tampak menyerap apa yang beliau wasiatkan kepada tamunya pagi ini.
Terakhir ia menjelaskan tentang angka empat lima, bahwa
setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam
empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Subuh, Dzuhur,
dan Ashar. “Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada
adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia,”
beberapa hal lain yang beliau sampaikan tentang tokoh
nasional, dan NKRI
Panitia membagikan sarapan pagi kepada hadirin. kemudian
kami sarapan berjamaah. bersama mbah Maimun Zubair.
Menyanyi Bersama Mbah Maimun
Yang pasti akan diingat oleh rombongan Kendal, utamanya Kyai
Adib dan Syeh Turmundhi adalah saat Mbah Maimun mengajak kami menyanyi lagu nasional.
Satu Nusa Satu Bangsa
Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita
Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya
Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama
diantara jamaah banyak yang menahan diri atau mungkin karena
tidak hafal. kebetulan saya agak hafal meskipun agak lupa juga. Mbah maimun
Zubair memandang ke saya dan Alhamdulillah kami bisa menyanyi lagu satu nusa
satu bangsa sampai selesai.
karena sering lupa dan terhenti, jamaah dari Pasuruan sampai
menendang-nendang kaki saya sebagai isyarat untuk meneruskan lagu satu nusa
satu bangsa. heheheh…maaf.
Alhamdulillah, Terimakasih Mbah Maimun.
Mohon doa dan restu
Selesai sarapan Mbah Maimun Zubair memimpin doa. kami semua
mengaminni. setelah itu satu persatu jamaah berpamitan. ada yang dari Surabaya,
Cirebon, pasuruan, Kendal , Pemalang dan daerah lain.
Syeh Turmundhi mengungkapkan ketakdziman kepada Mbah Maimun
seraya mohon doa sambal salaman, pun Kyai Sujud dan Kemudian disusul Kyai Adib
Suparman , bersama saya dan Gus Muslimin, memoho doa dengan perantaraan air
mineral yang sengaja kami bawa.
setelah itu baru kemudian secara khusus saya menyampaikan
permohonan restu dan minta barokah doa surah Alfatehah dan sholawat nabi kepada
Mbah Maimun. Sembari mbah Maimun
membacakan doa di kepala saya dan telinga saya serta mengusap rambut dan meniup
ubun-ubun kepala saya. Alhamdulillah. semoga menjadi wasilah jalan kebaikan
bagi kami, khususnya diri saya untuk kepindahan kerja di KPU Kabupaten Kendal dan keluarga.
Amiin
Oh iya …sampai saat ini saya masih mencoba mengingat-ingat
penuturan mbah Maimun Zubair tentang “Purwakaning Waseso”
Semoga Kyai Adib Suparman bisa menjelaskannya kepada saya…dan
kita…suatu saat.
kapan saja….. kita nantikan lho kyai Adib.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar