Guyon Bareng Mbah Mun, demikian kami menyebut pertemuan kami
yang perdana secara fisik dengan tokoh kyai kharismatik Mbah Maimun Zubair. Jumat
Wage 11 Muharom 1440 Hijriah, bertepatan dengan 21 September 2018.
Senin, 24 September 2018
Selasa, 18 September 2018
UPACARA KEMATIAN JAWA
Gebing Klapa Aking
layu layu sesambate kapiluyu
rino klawan ratri sesenggukan
udan waspo
anggrantes kekes kenging coba
kang tumama
awit sihing gusti
amadhangi jroneng nala.
ooo…
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun
Surem surem diwangkara king king
lir manungsa kang lelayon
dunyo ilang memanise
wadanannira layu
kumel kuceng rahnya mertani
ooo…..
dhuh gusti jejimat ingsun
eee………
Mati matek pratitis
golekko dalan padang kaki…
dalane gusti kang akarya widhi
surtanah
bantal lemah
krenda
layung
dungo tahlil
asesangu tumindak becik
sugeng tindak, ngadeng hyang maha kwasa
Upacara Orang Jawa (Kematian)
Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang
telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling
keluarganya. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selametan yang
dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Berikut diantaranya ritual yang
dilakukan menurut adat istiadat Jawa.
Pemberitahuan Atau Pemberitaan Lelayu
Hal yang pertama kali dilakukan dalam masyarakat
Jawa ketika ada orang meninggal adalah memberi penghiburan kepada keluarga
bahwa semua ciptaan akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apabila keadaan
keluarga sudah reda, perhatian segera dialihkan ke jenazah. Jenazah yang baru
saja meninggal dunia segera ditidurkan secara membujur, menelentang, dan
menghadap ke atas. Selanjutnya mayat ditutup dengan kain batik yang masih baru.
Kaki dipan tempat mayat itu ditidurkan perlu direndam dengan air, maksudnya
agar dipan itu tidak dikerumuni semut atau binatang kecil lainnya. Tikar
sebagai alas tempat jenazah dibaringkan perlu diberi garis tebal dari kunyit
dengan maksud agar binatang kecil tidak mengerumuni mayat. Terakhir adalah
membakar dupa wangi atau ratus untuk menghilangkan bau yang kurang sedap.
Bersamaan dengan hal diatas, beberapa orang terdekat
bertugas memanggil seorang modin dan mengumumkan kematian itu kepada para sanak
saudara dan tetangga. Pemberitaan juga dilakukan dengan bantuan pengeras suara
dari masjid terdekat. Setelah kabar tersiar mereka yang mendengar akan berusaha
segera datang ketempat itu untuk membantu menyiapkan pemakaman.
Upacara Ngesur Tanah (Geblag)
Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang
diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini
diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah
atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan
mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag
semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga.
Bahan yang digunakan untuk kenduri terdiri atas:
1. Nasi
gurih (sekul wuduk)
2.
Ingkung (ayam dimasak utuh)
3. Urap
(gudhangan dengan kelengkapannya)
4. Cabai
merah utuh
5. Krupuk
rambak
6.
Kedelai hitam
7. Bawang
merah yang telah dikupas kulitnya
8. Bunga
kenanga
9. Garam
yang telah dihaluskan
10. Tumpeng
yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng
ungkur-ungkuran)
1.
Upacara Brobosan
Sebelum jenazah diberangkatkan ke makam dilakukan
suatu upacara yang disebut dengan “upacara brobosan”. Upacara brobosan ini
bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua
atau keluarga mereka (jenazah) yang telah meninggal dunia. Upacara brobosan
diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal sebelum dimakamkan dan
dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.
Namun sebelum upacara dilakukan, biasanya diawali dengan beberapa
sambutan dan ucapan belasungkawa oleh beberapa pamong desa. Dan semua yang
hadir ditempat itu harus berdiri hingga jenazah benar-benar diberangkatkan.
Upacara brobosan tersebut dilangsungkan dengan tata
cara sebagai berikut:
1) Peti mati
dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah
upacara doa kematian selesai.
2) Anak
laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan
berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga
kali dan searah jarum jam.
3) Urutan
selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan
pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.
Setelah itu jenazah diberangkatkan dengan keranda
yang diangkat oleh anak-anaknya yang sudah dewasa bersama dengan anggota
keluarga pria lainnya, sedangkan seorang memegang payung untuk menaungi bagian
dimana kepala jenazah berada. Adapun urutan untuk melakukan perjalanan ke
pemakaman juga diatur. Yang berada diurutan paling depan adalah penabur sawur
(terdiri dari beras kuning dan mata uang), kemudian penabur bunga dan pembawa
bunga, pembawa kendi, pembawa foto jenazah, keranda jenazah, barulah dibagian
paling belakang adalah keluarga maupun kerabat yang turut menghantarkan. Namun
dalam keyakinan orang Jawa, seorang wanita tidak diperkenankan untuk memasuki
area pemakaman. Jadi mereka hanya boleh menghantarkan sampai didepan pintu
pemakaman saja. Dan mereka yang masuk hanyalah kaum pria tanpa memakai alas
kaki.
Upacara Nelung Dina ( Tiga Hari)
Upacara ini merupakan upacara kematian yang
diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan
ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat.
Bahan untuk kenduri biasanya terdiri atas:
*Takir pontang yang berisi nasi putih dan nasi
kuning, dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang
telah dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang telah digerus
(dihaluskan), kue apem putih, uang, gantal dua buah.
*Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah
digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan, sayur menir, jenang merah
Upacara Mitung Dina (Tujuh Hari)
Upacara ini untuk memperingati tujuh hari
meninggalnya seseorang.
Bahan yang digunakna untuk kenduri biasanya terdiri
atas:
*Kue apem yang di dalamnya diberi uang logam, ketan,
kolak (semuanya diletakkan dalam satu takir)
*Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang
merah yang dicampur dengan kacang panjang yang diikat kecil-kecil, dan daging
jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut (conthong), serta pindang
putih.
Upacara Matang Puluh ( Empat Puluh Hari )
Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari
meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri.
Bahan untuk kenduri biasanya sama dengan kenduri
pada saat memperingati tujuh hari meninggalnya, namun ada tambahan sebagai
berikut:
1. Nasi wuduk
2. Ingkung
3. Kedelai hitam
4. Cabai merah utuh
5. Rambak kulit
6. Bawang merah yang telah dikupas kulitnya
7. Garam
8.Bunga kenanga
Upacara Nyatus (Seratus Hari)
Upacara ini untuk memperingati seratus hari
meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati
seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan
empat puluh hari.
Upacara Mendhak Pisan (Setahun Pertama)
Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang
diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan
bahan yang diigunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada
dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari.
Upacara Mendhak Pindho (Tahun Kedua)
Upacara mendhak pindho merupakan upacara terakhir
untuk memperingati meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan
untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika
melakukan peringatan mendhak pisan.
Upacara Mendhak Katelu (Seribu Hari)
Merupakan peringatan seribu hari bagi orang yang
sudah meninggal. Peringatan dilakukan dengan mengadakan kenduri yang
diselenggarakan pada malam hari.
Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan
yang digunakan pada peringatan empat puluh hari yang ditambah dengan:
*daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek,
seekor domba disiram dengan bunga setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti
dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga yang telah dirangkai,
diberi makan daun sirih. Keesokan harinya domba diikat kakinya lalu ditidurkan
di tanah. Badan domba seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau.
Hal ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi arwah yang mati supaya lekas
sampai surga. Setelah itu domba disembelih dan kemudian dimasak becek.
*Sepasang burung merpati dikurung dan diberi
rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung merpati dilepas dan
diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim tunggangan bagi
arwah agar dapat cepat kembali pada Tuhan. dalam keadaan suci, bersih, tanpa
beban.
*Sesaji, terdiri atas tikar bangka, benang lawe
empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu
lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua,
kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep,
kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dengan kelengkapan untuk
menginang, bunga boreh. Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di
tempat orang berkenduri untuk elakukan doa.
Khol (Kol Kolan)
Kol merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang
yang sudah meninggal setelah seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan
dengan satu tahun setelah nyewu. Saat peringatan ini harus bertepatan dengan
hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan kenduri dengan bahan
kenduri: kue apem, ketan, dan kolak. Semuanya diletakkan dalam satu takir.
Pisang raja satu tangkep, uang “wajib”, dan dupa.
Nyadran
Nyadran adalah hari berkunjung ke makam para
leluhur/kerabat yang telah mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah
atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi umat Islam.
3. Makna
Uba Rampe Pada Saat Kematian Di Jawa
1 Lambang-lambang dan Makna yang Terkandung dalam
Upacara
a. Sega
golong melambangkan kebulatan tekad yang manunggal atau istilah Jawanya “tekad
kang gumolong dadi sawiji”. Dalam hal kematian, baik yang mati maupun keluarga
yang ditinggalkannya sama-sama mempunyai tujuan yaitu surga.
b. Sega
asahan atau ambengan melambangkan suatu maksud agar arwah si mati maupun
keluarga yang masih hidup kelak akan berada pada “pembenganing Pangeran”,
artinya selalu mendapatkan ampun atas segala dosa-dosanya dan diterima di
sisiNya.
c.
Tumpeng/nasi gunungan melambangkan suatu cita-cita atau tujuan yang
mulia (gegayuhan kang luhur), seperti gunung yang mempunyai sifat besar dan
puncaknya menjulang tinggi. Di samping itu didasari pula kepercayaan masyarakat
bahwa di tempat yang tinggi itulah Tuhan Yang Maha Kuasa berada, roh manusiapun
kelak akan ke sana.
d. Tumpeng pungkur melambangkan perpisahan
antara si mati dengan yang masih hidup, karena arwah si mati akan berada di
alam yang lain sedangkan yang hidup masih berada di alam dunia yang ramai ini.
e. Sega
wuduk dan lauk pauk segar/bumbu lembaran maksudnya untuk menjamu roh para
leluhur.
f.
Ingkung ayam melambangkan kelakuan pasrah atau menyerah kepada kekuasaan
Tuhan. Istilah ingkung atau diingkung mempunyai makna “dibanda” atau
dibelenggu.
g.
Kembang rasulan atau kembang telon melambangkan keharuman doa yang
dilontarkan dari hati yang tulus ikhlas lahir batin. Di samping itu bau harus
mempunyai makna kemuliaan.
h. Bubur
merah dan bubur putih melambangkan keberanian dan kesucian. Di sampingitu bubur
merah untuk memule atau tanda bakti kepada roh dari bapak atau roh laki-laki
dan bubur putih sebagai tanda bakti kepada roh dari ibu atau roh perempuan.
Secara komplitnya adalah sebagai tanda bakti kepada bapa angkasa ibu pertiwi
atau penguasa langit dan bumi, semuadibekteni dengan harapan akan memberikan
berkah, baik kepada si mati maupun kepada yang masih hidup.
i.
Tukon pasar untuk menghormati “dinten pitu pekenan gangsal” atau hari
dan pasaran dengan harapan segala perbuatan dan perjalanan roh si mati maupun
yang masih hidup ke semua arah penjuru mata angin akan selalu mendapatkan
selamat tanpa halangan suatu apa.
Disamping itu semoga mendapatkan berkahNya hari di
mana hari itu diadakan selamatan, misalnya malam Kamis pon, Rabu Wage dan lain
sebagainya.
j.
Wajib melambangkan suatu niat ucapan terima kasih kepada kaum yang telah
“ngujubake” menjabarakan tujuan selamatan itu, dan terima kasih pula kepada
semua fihak yang ditujunya, semoga semuanya itu terkabul.
k. Sega
punar atau nasi kuning melambangkan kemulian, sebab warna atau cahaya kuning
melambangkan sifat kemuliaan. Juga dimaksudkan sebagai jamuan mulia kepada yang
dipujinya.
l.
Apem melambangkan payung dan tameng, dan dimaksudkan agar perjalanan roh
si mati maupun yang masih hidup selalu dapat menghadapi tantangannya dan segala
gangguannya berkat perlindungan dari yang maha kuasa dan para leluhurnya.
m. Ketan
adalah salah satu makanan dari beras
yang mempunyai sifat”pliket’ atau lekat. Dari kata pliket atau ketan, ke-raket
melambangkan suatu keadaan atau tujuan yang tidak luntur atau layu, artinya
tidak kenal putus asa.
n. Kolak
adalah melambangkan suatu hidangan minuman segar atau untuk “seger-seger”
sebagai pelepas dahaga. Disamping itu juga melambangkan suatu keadaan atau
tujuan yang tidak luntur atau layu, artinya tidak kenal putus asa.
o.
Kambing, merpati dan itik melambangkan suatu kendaraan yang akan
dikendarai oleh roh si mati.
p. Materi
sajian lain seperti tikar, benang lawe,
jodog, sentir, clupak, minyak klentik, sisir, minyak wangi, cermin, kapas,
pisang, beras, gula, kelapa, jarum dan lain sebagainya yang mana hal ini biasanya
pada selamatan seribu hari adalah sebagai lambang dari segala perlengkapan
hidup manusia sehari-hari, dan semua itu dimaksudkan sebagai bekal roh si mati
dalam menjalani kehidupan di alam baka.
3.2 Lambang Atau Makna Dari Uba Rampe
-
Benang lawe adalah benag putih sebagai lambang tali suci sebagai
pengikat atau tali hubugan antara keluarga yang ditinggalkan dengan yang sudah
pergi jauh itu.
-
Jodog dan sentir adalah lambang penerang, maksudnya agar roh si mati
tadi selalu mendapatkan terang.
-
Clupak berisi minyak dan sumbu melambangkan obor di perjalanan dan
semangan yang tinggi.
-
Minyak klentik 1 botol sebagai lambang bekal cadangan jika sewaktu-waktu
kehabisan atau lampunya mati. Sebab kebiasaan orang Jawa jaman dulu menggunakan
minyak lampu bukan dari minyak tanah seperti sekarang, melainkan denga minyak
kelapa atau minyak klentik.
-
Sisir, minyak wangi dan cermin melambangkan sebagai perlengkapanmake up
atau untuk “dandan’/menghiasi diri, agar rapi dan wangi, jika perempuan ibarat
seperti bidadari, jika laki-laki ibarat sepeti satriya yang tampan.
-
Kapas yang biasa sebagai alas atau isi bantal melambangkan bantal suci.
-
Pisang raja sebagai lambang persembahan kepada yang maha kuasa di samping
itu juga sebagai buah segar.
-
Beras, gula kelapa melambangkan makanan beserta lauk dan bumbunya,
sebagai bekal hidup di alam kelanggengan.
-
Jarum dan perlengkapannya sebagai lambang alat pembuat pakaian,
maksudnya sebagai bekal untuk membuat pakaian jika sewaktu pakaiannya rusak.
-
“Bala pecah” sebagai lambang perlengkapan rumah tangga.
q. Sapu
gerang/sapu lidi yang telah usang atau tua, sebagai lambang tombak seribu,
maksudnya adalah sebagai senjata bila menemui bahaya. Disamping sapu gerang
biasanya juga diikutsertakan pisau dan sujenpring ampel. Keduanya sebagai
lambang senjata.
r.
Dlingo bengle sapiturute atau rempah-rempah, sebagai lambang obat-obatan
jika terkena sakit, sewaktu di perjalanan atau di alam yang baru itu.
s. Telor
melambangkan kebulatan atau kemanunggalan berbagai sifat dan tujuan sebab telor
itu sendiri terdiri dari berbagai lapisan, dan masing-masing lapisan mempunyai
makna sendiri-sendiri.
-
Hitam, yaitu pada kulit keras mengandung makna atau maksud keteguhan
hati dan keteguhan cita-cita atau tujuan.
-
Merah, yaitu pada kulit lunak, mengandungmakna keuletan dan keberanian.
-
Putih, yaitu pada lapisan putihan telur, mengandung makan kesucian dan
ketulusan hati.
- Kuning, yaitu pada lapisan kuning telur,
mengandung makna kepandaian, kebijaksanaan dan kewibawaan serta kemuliaan.
-
Hijau, yaitu pada lapisan terdalam atau titik pusat telor, mengandung
makna ketenganan, kesabaran dan kehidupan abadi.
Pustaka:
1 Amalia desi roheni :2014
2. Kyai Suwung : 2019
3. Youtub Srepeg Tlutur
Gebing Klapa Aking
layu layu sesambate kapiluyu
rino klawan ratri sesenggukan
udan waspo
anggrantes kekes kenging coba
kang tumama
awit sihing gusti
amadhangi jroneng nala.
ooo…
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun
Surem surem diwangkara king king
lir manungsa kang lelayon
dunyo ilang memanise
wadanannira layu
kumel kuceng rahnya mertani
ooo…..
dhuh gusti jejimat ingsun
eee………
Mati matek pratitis
golekko dalan padang kaki…
dalane gusti kang akarya widhi
surtanah
bantal lemah
krenda
layung
dungo tahlil
asesangu tumindak becik
sugeng tindak, ngadeng hyang maha kwasa
Semarang 19 September 2018
Senin, 17 September 2018
Senin, 30 April 2018
Foto Pengajian Selapanan Mushola Al Badar
FOTO
Pengajian Selapanan Mushola Al Badar
Nokerto Lor
Ahad 29 April 2018
by : Kyai Suwung. (085641590138)
KLIK LIHAT SELENGKAPNYA DI BAWAH INI......
TERIMAKASIH
Langganan:
Postingan (Atom)
